#AiHe_3 Khazanah Ilmu yang terbuka

Di beberapa kampus terbaik di Indonesia mungkin membahas sebuah jurnal ilmiah di strata-1 (S1) bukanlah barang baru. Bahkan teman-temanku yang akhirnya melanjutkan studi ke Taiwan, mereka telah pernah berkolaborasi dengan dosennya untuk mempublikasi tulisan walau masih mahasiswa S1. Aku baru mengenal jurnal, tulisan seminar dan saudara-saudaranya pada tahun 2010. Saat itu aku memutuskan untuk melanjutkan studi S2 setelah mengambil pengalaman kerja selama 3 tahun. Disinilah aku mengenal pembimbing bercitarasa “sahabat”, Prof. Lin namanya. Di semester awal aku harus menentukan dosen pembimbing, dan karena program internasional di kampusku baru saja dibuka, maka hanya ada segelintir dosen yang memiliki kecakapan berbahasa Inggris. Prof. Lin memiliki kecakapan berbahasa Inggris dan dia adalah dosen “baru” di kampusku. Jadi selain mengajar ia mulai mempromosikan risetnya untuk sekaligus merekrut para mahasiswa internasional ke lab-nya. Aku adalah mahasiswa internasional pertama yang dibimbingnya, dan aku nihil pengalaman dalam melakukan penelitian. Jadi kami memiliki kesamaan, kesamaan dalam kegigihan yang tak terbatas, karena Prof. Lin bekerja keras untuk settle di lab barunya setelah sekian lama bekerja di penelitian industri, dan aku dengan semangat 45 ingin lulus on-time S2 dengan nilai yang memuaskan. Perjalanan kami pun dimulai dan tak jarang melewati masa terjal ketika aku harus membuka lagi pelajaran-pelajaran matematika dan statistika sebagai ilmu dasar penelitian kami di bidang visi komputer (computer vision). Selain itu aku harus mulai mengasah skill menulis secara ilmiah. Seolah-olah diberikan petunjuk oleh Allah swt, aku mengasah menulis ilmiah berbarengan dengan menulis secara bebas/informal lewat blog-ku. Selama 2 tahun menimba ilmu aku rutin menulis tiap pagi di blog dan menghasilkan ratusan tulisan singkat dan bagiku itu adalah tulisan yang sangat mengesankan. Aku memberi tajuk tulisan-tulisan ini dengan singkatan TRP (Tulisan Rutin Pagi). Sebuah tulisan rutin yang selalu kutulis setelah shalat shubuh dan tilawah al-quran, dan hampir semua tulisan itu terinspirasi dari arti/makna ayat-ayat al-quran yang kubaca hari itu. Oleh karena itu, bagiku tulisan-tulisan itu sangat monumental dan membentuk cara pikirku selama studi. Tulisan-tulisan ini pulalah yang menjadi motor semangatku dalam merenungi hidup, berkontribusi dan meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Alhamdulillah dengan bimbingan Prof. Lin, rutin menulis di pagi hari dan terus memperbaiki tulisan, aku mampu menyarikan trik dan kebiasaan terbaik dalam menulis sebuah tulisan ilmiah. Trik-trik itu mungkin tidak berlaku bagi semua peneliti namun beberapa kaidah-kaidahnya telah kusebarkan melalui kelas Tata Tulis Ilmiah yang kuajar di tiap semester Ganjil sekembali ke Indonesia.

Prof. Lin tidak hanya berfokus pada perkembangan penelitian, ia tidak jarang mengajak anggota lab untuk makan malam bersama (jika ia anggap laporan kami pada pekan itu memuaskan). Ia menerapkan dengan sempurna strategi reward bagi mereka yang mampu melaksanakan pekerjaan secara baik. Makan malam itu menjadi tempat kami sebagai mahasiswanya bercakap tanpa tabir dan tak jarang saling bercanda. Momen makan malam “reward” inilah yang selalu aku ingat, sebuah reward atas letih belajar dan belajar lalu menulis lalu menulis lagi. Seingatku, tidak ada ilmu yang ia sembunyikan dariku, ia tak segan membantuku untuk menyelesaikan permasalahan simulasi yang biasanya hanya kuminta bantuannya ketika sudah mentok dan kami dikejar deadline submisi artikel. Ia juga tak segan menasihati dengan sedikit keras ketika aku terlambat hadir dalam sebuah presentasi pekanan lab. Sesekali ia juga menulis email panjang untuk memberikan saran, nasihat dan motivasi.

Makan malam perpisahan Lab saat aku merampungkan studi S-2.

Memetik buah strawberi bersama beberapa profesor dan teman lab (21 Januari 2011)

Perjalanan Seminar Ilmiahku yang pertama (Xián, China 2011).

Dua tahun perjalanan ilmiahku berjalan sangat cepat dan aku akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi doktor di Taiwan lagi (namun berbeda kampus). Ia akhirnya menyarankanku untuk mendaftar ke sebuah kampus negeri yang mungkin dari sisi tantangan akan jauh lebih besar. Aku sebagai murid tak mengambil tempo dan langsung menuruti sarannya. Sangat banyak memori yang tak bisa aku tumpahkan, namun di tulisan singkat ini ingin aku utarakan bahwa dengan mengikuti guru yang baik akan ada khazanah-khazah ilmu yang terbuka, terbuka sangat lebar. Terima kasih Prof. Lin! (hingga hari ini kami masih berkolaborasi dalam membimbing seorang mahasiswa doktoral asal Indonesia di Taiwan). Alhamdulillah dengan petunjuk Allah swt dan bimbingan Prof. Lin aku telah menerbitkan lebih dari 20 artikel ilmiah hingga hari ini (https://scholar.google.com/citations?user=3ll8Yr4AAAAJ&hl=en)

Wallahua’lam.

13. April 2020 by Mr.K
Categories: AiHe | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *