#AiHe_2 Dokter, Daí dan Abi

Namanya Ahmed, tubuhnya besar dan tegap dengan pancaran wajah yang cerah, cerah sekali. Aku melihatnya pertama kali di masjid Kaohsiung, Taiwan kala kami melakukan buka puasa bersama. Saat itu ia dan keluarga duduk di meja yang berbeda namun karena posturnya yang besar dan berbeda, maka sangat mudah terlihat. Ia kelahiran Mesir dan menempuh studi dokter hingga doktoralnya di University of Cairo. Dikarenakan kondisi negaranya yang tidak menentu saat itu, akhirnya ia mengadu nasib ke negeri kecil Taiwan dan melakukan riset sebagai mahasiswa post-doktoral di rumah sakit chang-geng, Kaohsiung. Jika takdir pasti kan terjadi, dan kami pun berkenalan. Ya Allah, ia sosok yang sangat ramah, teduh dan bersemangat, gumamku dalam hati. Kala menulis ini, air mataku nyaris keluar, karena aku rindu sosok sepertinya yang kian hari kian jarang. Sosok manusia yang cemerlang di ilmu dunia dan tidak pernah meninggalkan ilmu akhiratnya, ia seorang hafiz 30 juz, dengan anak dan istri masing-masing satu, bergelar dokter dan Doktor, sungguh membuatku terpana. Aku yakin perjalanan hidupnya tidak mudah, namun Allah senantiasa menaunginya dengan kalam-Nya, alquran 30 Juz berada dalam hatinya. Setelah mengenal sangat dekat, ia pun mengundang kami ke apartemennya yang sangat dekat dengan rumah sakit dan danau chenqing. Di sini aku belajar bagaimana memuliakan tamu, istrinya yang tak kalah ramah dan anaknya yang jenaka menyambut istriku dan Akif dengan senyum ikhlas dan makanan khas Mesir yang mereka masak sendiri. Aku sangat ingat, makaroni yang dicampur dengan keju lalu semangkuk sup sejenis kedelai yang sangat nikmat.

Dari pertemuan demi pertemuan yang rutin akhirnya aku berinisiatif mengundangnya ke pengajian mahasiswa muslim Indonesia yang kugagas bersama teman-teman. Lalu ia pun rutin hadir dan memenuhi hati kami yang kering dengan nasihat-nasihat yang sangat meneduhkan. Selalu saja kala ia memberikan nasihat dalam bahasa inggris dibarengi dengan ayat-ayat suci al-quran sebagai dalilnya. Ia sangat fasih berbahasa dan didukung dengan ilmunya yang luas dalam Islam. Tidak hanya itu, saat libur perkuliahan, aku pun sempat mengajaknya ke kota Tainan untuk sejenak berbagi ilmu untuk mahasiswa Indonesia di sana. Ia selalu melakukan dengan ikhlas dan penuh semangat. Aku selalu tertegun dengan keikhlasannya ketika panitia acara di Tainan menyodorkan sekotak kue sebagai tanda terima kasih. Tak kusangka, ia tergesa-gesa mencariku,

Ahmed: “Kahlil, they give me a cake, please, I don’t want it. I did this for Allah…
Me: “Ahmed, this is very common for Indonesian to give a present, please take it!”

Lalu dengan paras yang masih muram ia pun menerimanya. Ia takut dengan ia mengambil itu maka ada keikhlasan yang ternoda, keikhlasan berdakwah yang telah menjadi prinsip hidupnya. Ia sungguh berbeda dengan kebanyakan orang, aku bersyukur mengenalnya. Waktu terus berlalu, dan ketika ada awal pasti ada akhir. Di Tahun 2017 aku lulus studi doktor dan memutuskan pulang kandang (kembali ke Aceh). Ia saat itu telah melakukan beberapa ikhtiar untuk menjadi dokter di Amerika Serikat. Tetapi kabar terakhir yang kudapat, ia akhirnya menetap di Arab Saudi dan bekerja di sana. Hari ini aku lost contact dengannya. Akun LINE yang biasa kami gunakan untuk berkomunikasi telah inactive. Ahmed, perjalananku di Aceh tidak senantiasa mulus, kala aku merasakah keletihan ruhiyah (hati yang kering), aku mengingatmu sebagai sosok panutan dalam istiqomah. Saat itulah aku mengadu pada Allah, bahwa letihku tidak seberapa dengan perjalanan hidup seorang Ahmed. Mungkin fisik kita akan sulit bertemu lagi, tapi ku yakin hati kita berpaut. Aku dan istriku mencintai kalian karena Allah…Kalian sosok keluarga teladan bagi kami, keluarga yang dinaungi al-quran.

07. April 2020 by Mr.K
Categories: AiHe | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *