#AiHe_1 Kenangan pada Guru

Namanya Alit Bondan, ia adalah guruku semasa kuliah S1 dulu. Ketika hampir semua teman memilih duduk di garda terakhir (alias bangku belakang), aku dengan bangga seorang diri duduk dalam radius 2 meter di depannya. Aku suka kala ia mengajar, aku suka kala ia menjelaskan dan memainkan spidol hitam di whiteboard. Ia mengajar mata kuliah Kalkulus, yang pembaca pasti tidak akan bertanya-tanya lagi kenapa mayoritas mahasiswanya duduk di bangku belakang kan?. Namun aku mencintai matematika sedari dulu, aku suka momen kala aku menggurutu sendiri di depan secarik kertas dan aku suka momen aku menggaruk kepala dan berpikir keras untuk menyelesaikan sebuah problem turunan ataupun integral.

Menjadi tamu di Seminar Nasional yang diadakan oleh Jurusan Teknik Informatika STT-PLN, tahun 2009. Kenangan bersama Pak Alit Bondan.

Pak Alit bukan dosen biasa, ia keturunan pahlawan, ya ayah dan ibunya merupakan pahlawan pena bernama Bondan dan Molly Bondan. Wajah Pak Alit sangat khas, berkulit putih, berambut sedikit pirang persis ibunya yang berasal dari negeri Belanda. Tutur katanya sangat lembut dan kebapakan, sehingga tak jarang aku ketuk pintu ruangannya untuk menanyakan sebuah permasalahan matematika. Tapi tak jarang ia mengambil penaku dan menyelesaikan permasalahan itu seperti seorang artis yang memainkan kuas di atas kanvas, cantik sekali. Aku bangga, bangga sekali pernah diajarnya, berinteraksi dengannya dan serial #AiHe kali ini, aku menyarikan beberapa pelajaran penting dari seorang guru teladan yang akhirnya hingga hari ini aku amalkan:

  1. Senyum, karena ia adalah gerbang pertama interaksi yang nyaman, bahkan mungkin pada saat itu kita lelah, penat ataupun minus selera.
  2. Tenang, karena ia awal dari penyelesaian masalah yang gemilang, sama halnya ketika pak Alit memegang spidol dan memainkannya di depan white board, terukur dan tenang.
  3. Konsistensi, berpuluh tahun mengajar sebuah perkuliahan, menghasilkan buku panutan matematika dan berjalan kaki dari gerbang belakang kampus yang berjarak 200m sembari memegang tas cokelat mudanya yang ia apit dan menahannya ke punggung. Itu kekhasannya dan aku mengambil pelajaran konsistensi darinya.

Semoga Ia mendapatkan posisi terbaik di sisi-Nya..aku rindu, rindu akan guru teladan…

04. April 2020 by Mr.K
Categories: AiHe | Leave a comment

Leave a Reply

Required fields are marked *